Kamis, 25 Oktober 2012

Ibnu Khaldun Tauladan untuk Para Pendidik

Didalam dunia pendidikan Islam, tentunya semua orang mengenal tokoh pemikir pendidikan yang sangat hebat, yaitu Ibnu Khaldun. Dari berbagai hasil pemikiran dan konsep pendidikannya perlu untuk kita pelajari dan terapkan dalam mendidik anak maupun siswa-siswi kita. Dalam artikel ini kita akan pelajari apa saja prinsip pemikiran Ibnu Khaldun yang sesuai untuk dunia pendidikan khususnya guru. Sebelum membahas apa saja prinsip-prinsipnya, kiranya perlu kita ulas terlebih dahulu siapa Ibnu Khaldun.
A. Autobografi
Tokoh ini merupakan salah satu pemikir pendidikan islam. Ia  adalah Ibnu Khaldun, yang sejak kecil selalu haus akan ilmu pengetahuan, selalu ingin tahu dengan ilmu yang telah diperolehnya, sehingga memungkinkan beliau mempunyai banyak guru yang telah mengajarinya. Jika kita berbicara tentang seorang cendekiawan yang satu ini, memang cukup unik dan mengagumkan. Sebenarnya, dialah yang patut dikatakan sebagai pendiri ilmu sosial. Tidak heran jika beliau termasuk orang yang pandai dalam ilmu islam, tidak saja dalam bidang agama, tetapi juga bidang- bidang ilmu umum, seperti sejarah, ekonomi, sosiologi, antropologi, dan lain-lain.
Ibnu Khaldun yang bernama lengkap: Abu Zayd 'Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami  adalah seorang sejarawan muslim dari Tunisia dan sering disebut sebagai bapak pendiri  ilmu historiografi, sosiologi dan ekonomi. Karyanya yang terkenal adalah Muqaddimah (Pendahuluan). Ibnu Khaldun, seorang cendikiawan muslim yang sangat populer dilahirkan pada tahun 732 H/1332 M dan wafat di Mesir pada tahun 808 H (1406). Ia lahir dan wafat di saat bulan suci Ramadan. Nama lengkapnya Abu ZaidAbdurahman Ibnu Muhammad Ibnu Khaldun Waliyudin al Tunisi al Hadramy al Asbili al Miliki. Dia berasal dari keluarga Andalusia yang berdomisili di Silvia. Nenek moyangnya berasal dari kabilah bani Wa-il yang berasal dari negeri Hadramaut Yaman, yang diduga berhijrah ke Andalusia pada abad ke-3 H. Pada abad ke-7 H keluarga Ibnu Khaldun dari Silvia ke Tunis. Ibnu Khaldun dibesarkan di Tunis. Sejak kecil beliau telah mendapat didikan langsung dari orang tuanya untuk mempelajari dasar-dasar pemahan Al-qur’an. Tidak sedikit guru-guru yang telah beliau timba ilmunya, antara lain: Syaikh Abu Abdilah bin Araby Al-Hashoyiry, Abu Abdillah Muhammad bin Asy-Syawas Az- Zarzaly, Abu Al-Abbas Ahmad bin Al-Qashar dan Abu Abdillah Muhammad bin Bahr. Mereka semua merupakan guru- guru yang mengajarkan bahasa arab. Hal ini tidak mengherankan jika Ibnu Khaldun termasuk pemikir yang interaktif dan mudah diterima hasil-hasil pemikirannya karena kepiawaian beliau dalam menggunakan bahasa.
Selain itu dalam tugas-tugas yang diembannya penuh dengan berbagai peristiwa, baik suka dan duka. Ia pun pernah menduduki jabatan penting di Fes, Granada, dan Afrika Utara serta pernah menjadi guru besar di Universitas al-Azhar, Kairo yang dibangun oleh dinasti Fathimiyyah. Dari sinilah ia melahirkan karya-karya yang monumental hingga saat ini. Nama dan karyanya harum dan dikenal di berbagai penjuru dunia. Panjang sekali jika kita berbicara tentang biografi Ibnu Khaldun, namun ada tiga periode yang bisa kita ingat kembali dalam perjalan hidup beliau. Periode pertama, masa dimana Ibnu Khaldun menuntut berbagai bidang ilmu pengetahuan. Yakni, ia belajar Alquran, tafsir, hadis, usul fikih, tauhid, fikih madzhab Maliki, ilmu nahwu dan sharaf, ilmu balaghah, fisika dan matematika.
Dalam semua bidang studinya mendapatkan nilai yang sangat memuaskan dari para gurunya. Namun studinya terhenti karena penyakit pes telah melanda selatan Afrika pada tahun 749 H. yang merenggut ribuan nyawa. Ayahnya dan sebagian besar gurunya meninggal dunia. Ia pun berhijrah ke Maroko selanjutnya ke Mesir; Periode kedua, ia terjun dalam dunia politik dan sempat menjabat berbagai posisi penting kenegaraan seperti qadhi al-qudhat (Hakim Tertinggi). Namun, akibat fitnah dari lawan-lawan politiknya, Ibnu Khaldun sempat juga dijebloskan ke dalam penjara.
Setelah keluar dari penjara, dimulailah periode ketiga kehidupan Ibnu Khaldun, yaitu berkonsentrasi pada bidang penelitian dan penulisan, ia pun melengkapi dan merevisi catatan-catatannya yang telah lama dibuatnya. Seperti kitab al-’ibar (tujuh jilid) yang telah ia revisi dan ditambahnya bab-bab baru di dalamnya, nama kitab ini pun menjadi Kitab al-’Ibar wa Diwanul Mubtada’ awil Khabar fi Ayyamil ‘Arab wal ‘Ajam wal Barbar wa Man ‘Asharahum min Dzawis Sulthan al-Akbar. Kitab al-i’bar ini pernah diterjemahkan dan diterbitkan oleh De Slane pada tahun 1863, dengan judul Les Prolegomenes d’Ibn Khaldoun. Namun pengaruhnya baru terlihat setelah 27 tahun kemudian. Tepatnya pada tahun 1890, yakni saat pendapat-pendapat Ibnu Khaldun dikaji dan diadaptasi oleh sosiolog-sosiolog German dan
Austria yang memberikan pencerahan bagi para sosiolog modern.
Karya-karya lain Ibnu Khaldun yang bernilai sangat tinggi diantaranya, at-Ta’riif bi Ibn Khaldun (sebuah kitab autobiografi, catatan dari kitab sejarahnya); Muqaddimah (pendahuluan atas kitabu al-’ibar yang bercorak sosiologis-historis, dan filosofis); Lubab al-Muhassal fi Ushul ad-Diin (sebuah kitab tentang permasalahan dan pendapat-pendapat teologi, yang merupakan ringkasan dari kitab Muhassal Afkaar al-Mutaqaddimiin wa al-Muta’akh-khiriin karya Imam Fakhruddin ar-Razi).
B. Teori dan Prinsip-prinsip Pemikiran Ibnu Khaldun
Salah satu pemikiran beliau tentang pendidikan Islam terlihat pada peletakan dasar-dasar proses belajar mengajar sebagai sesuatu yang sangat mendasar dalam mengajarkan ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Prinsip- prinsip tersebut secara garis besarnya meliputi beberapa hal sebagai berikut :
  • Adanya penahanan dan pengulangan secara berproses.
  • Seorang guru dalam melaksanakan tugas kependidikannya harus mengerti psikologi murid-muridnya
  • Dalam menyajikan materi pelajaran, hendaknya guru memfoluskan pada satu masalah, jangan mencampuraduk
  • Dalam menyajikan materi pelajaran, hendaknya seorang guru jangan terlalu lama mengulur waktu sehingga menganggu jadwal belajar seharusnya. Ini akan menimbulkan sifat pelupa pada anak, sehingga memutuskan berbagai ilmu yang di pelajari.
  • Utamakan pemahaman pelajaran, jangan hanya hafalan
  • Seorang guru hendaknya bersikap kasih sayang terhadap anak didiknya.
C. Menganalisis Pemikiran Ibnu Khaldun
  • Adanya penahanan dan pengulangan secara berproses yang harus disesuaikan dengan kemampuan siswa SD dan materi yang diajarkan secara bersamaan. Dimana seorang guru dituntut hendaknya memberikan pemahaman secara bertahap mengenai masalah yang terdapat dalam setiap pelajaran, setelah itu memberikan penjelasan yang disesuaikan dengan keterangan pada materi yang diajarkan dan juga hendaknya seorang guru didalam menjelaskan materi jangan yang bersifat umum dan global, serta tidak meninggalkan hal-hal yang sulit dipahami serta tidak menutup-nutupi, kecuali menjelaskan hal-hal yang masih belum dipahami
  • Seorang guru dalam melaksanakan tugas kependidikannya harus mengerti psikologi murid-muridnya khususnya siswa di tingkat SD. Oleh karena itu seorang guru hendaknya selalu mempersiapkan cara yang akan dipergunakan dan dikembangkan dalam proses memberikan pemahaman dan penerimaan ilmu secara bertahap, terutama ketika guru memberikan materi baru atau pengetahuan baru, yang tentunya akan memberikan beban tambahan dalam proses penerimaan pengetahuan dan materi lainnya
  • Dalam menyajikan materi pelajaran, hendaknya guru memfokuskan pada satu masalah, jangan dicampur aduk. Dalam proses belajar mengajar siswa merupakan objek, jadi seorang guru tidak dianjurkan berpindah pada materi yang baru sebelum ia yakin bahwa siswanya telah paham terhadap materi pelajaran sebelumnya. Hal tersebut ditandai dengan bertambahnya tingkat kemampuan yang dimiliki oleh seorang siswa dan daya kesiapan yang dimilikinya. Dua hal inilah yang membentuk pemahaman yang dapat memberikan pengaruh tehadap kemapuan dan watak baru yang dapat mendukung prestasi siswa.
  • Dalam menyajikan materi pelajaran, hendaknya seorang guru jangan terlalu lama mengulur waktu sehingga menganggu jadwal belajar seharusnya. Ini akan menimbulkan sifat pelupa pada anak, sehingga memutuskan berbagai ilmu yang di pelajarinya, hendaknya di dalam proses belajar mengajar seorang guru agar memperhatikan proses pendidikan potensi yang dimiliki seorang siswa. Adapun potensi pada diri seorang siswa akan terbentuk melalui proses perbuatan yang dilakukan secara terus-menerus dan dengan melakukan pengulangan.
  • Utamakan pemahaman pelajaran, jangan hanya hafalan. Diharapkan supaya guru menghindari menyusun materi-materi ringkasan dan jangan membebani murid dengan hafalan yang ringkas serta menarik kesimpulannya, karena hafalan yang ringkas umumnya sulit, dan lebih sulit lagi memahami dan menarik kesimpulan yang benar. Ternyata berakibat rusaknya proses pengajaran dan tergganggunya terhadap usaha di dalam memahami isi materi pelajaran.
  • Seorang guru hendaknya bersikap kasih sayang terhadap anak didiknya. dimana guru hendaknya cinta kasih kepada anak-anak didiknya, membina mereka dengan penuh keakraban, lemah lembut, jangan keras dan kasar. Karena tindakan keras dalam pendidikan merugikan anak didik dan merusak mental mereka. Hukuman yang keras di dalam pengajaran, berbahaya bagi anak didik, khususnya bagi anakanak di tingkat SD karena itu termasuk tindakan yang dapat menimbulkan kebiasaan buruk. Sikap keras dalam pengajaran terhadap anak didik, dapat mengakibatkan kekerasan itu sendiri akan menguasai jiwa dan mencegah perkembangan pribadi anak didik tersebut. Kekerasan membuka jalan ke arah kemalasan dan penipuan dan kelicikan. Namun seorang guru jangan terlalu lemah lembut bila seumpama anak didiknya bersifat acuh terhadap pelajaran, maka sebisa mungkin perbaiki anak didiknya dengan kasih sayang dan lemah lembut. Namun jika anak didiknya tidak mengindahkan dengan cara itu maka seorang guru harus bersikap keras. Dengan demikian sikap keras adalah tindakan yang terakhir setelah sikap lemah lembut tidak dapat menyelesaikan masalah.
Selain itu, untuk masyarakat luas perlu ketahaui bahwa ada beberapa catatan penting dari sini yang dapat kita ambil bahan pelajaran. Bahwa Ibnu Khaldun menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan tidak meremehkan akan sebuah sejarah. Ia adalah seorang peneliti yang tak kenal lelah dengan dasar ilmu dan pengetahuan yang luas. Ia selalu memperhatikan akan komunitas-komunitas masyarakat. Selain seorang pejabat penting, ia pun seorang penulis yang produktif. Ia menghargai akan tulisan-tulisannya yang telah ia buat. Bahkan ketidaksempurnaan dalam tulisannya ia lengkapi dan perbaharui dengan memerlukan waktu dan kesabaran. Sehingga karyanya benar-benar berkualitas, yang di adaptasi oleh situasi dan kondisi.
Karena pemikiran-pemikirannya yang briliyan Ibnu Khaldun dipandang sebagai peletak dasar ilmu-ilmu sosial dan politik Islam. Dasar pendidikan Alquran yang diterapkan oleh ayahnya menjadikan Ibnu Khaldun mengerti tentang Islam, dan giat mencari ilmu selain ilmu-ilmu keislaman. Sebagai Muslim dan hafidz Alquran, ia menjunjung tinggi akan kehebatan Alquran. Sebagaimana dikatakan olehnya, “Ketahuilah bahwa pendidikan Alquran termasuk syiar agama yang diterima oleh umat Islam di seluruh dunia Islam. Oleh kerena itu pendidikan Alquran dapat meresap ke dalam hati dan memperkuat iman. Dan pengajaran Alquran pun patut diutamakan sebelum mengembangkan ilmu-ilmu yang lain.”
Jadi, nilai-nilai spiritual sangat di utamakan sekali dalam kajiannya, disamping mengkaji ilmu-ilmu lainnya. Kehancuran suatu negara, masyarakat, atau pun secara individu dapat disebabkan oleh lemahnya nilai-nilai spritual. Pendidikan agama sangatlah penting sekali sebagai dasar untuk menjadikan insan yang beriman dan bertakwa untuk kemaslahatan umat. Itulah kunci keberhasilan
Ibnu Khaldun, ia wafat di Kairo Mesir pada saat bulan suci Ramadan tepatnya pada tanggal 25 Ramadan 808 H./19 Maret 1406 M


Sumber : abu-syakir.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar